Kontroversi Wayang Techno
by SanG BaYAnG on Nov.25, 2009, under Budaya, Ngawi, selayang pandang, seni
Wayang techno merupakan sebuah terobosan baru dalam sejarah dunia pewayangan dan bisa di katakan sebagai seni pertunjukan wayang kontemporer berpangkal pada wayang purwa yang telah di kembagkan dan di kemas sedemikian rupa sehingga melahirkan sebuah kreasi seni generasi baru tanpa meninggalkan khasanah dan budaya yang telah ada pada wayang purwa atau wayang kulit yang di kenal oleh masyarakat selama ini.
Pagelaran wayang techno yang belum lama ini sempat di pertunjukan oleh seorang dalang sekaligus seniman dari ngawi (Dalang Poer) sepintas memang mirip dengan pertunjukan wayang purwa (wayang kulit) pada umumnya,namun bila kita simak dan telusuri lebih jauh pertunjukan wayang techno ini sangatlah jauh berbeda bahkan jejer dalam sebuah lakon yang di mainkanpun telah keluar dari pakem-pakem seni pedalangan yang di pakai para dalang selama ini.
Perbedaaan yang mencolok lagi dapat di lihat dengan jelas pada perabot gamelan yang di gunakan,gamelan yang biasa mengiringi dalam pertunjukan wayang berupa gong pelok ataupun slendro jua telah tergantikan oleh sentuhan perabot elektronik (organ/keybort) dan drum,beruntunglah masih ada kendang jawa di situ dan ini menunjukan bahwa meskipun wayang techno ini telah mengalami berbagai perubahan namun tetap tidak meninggalkan khasanah seni budaya jawa sehingga masih tetap menyertakan kendang dan menggunakan media wayang yang terbuat dari kulit.
Tak bisa kita pungkiri bahwa keberadaan seni dan budaya selalu mengalami perkembangan dan perubahan baik dalam bentuk ataupun fungsi tanpa terkecuali wayang yang telah ada sejak ratusan tahun silam.
Sejak pakem wayang mengacu pada sebuah serat karya sunan Pakubuwono,beberapa puluh tahun lalu mungkin masih mampu bertahan dengan pakem-pakemnya,namun saat ini apa yang terjadi..???
Terlalu banyak kreasi yang keluar dari pakem bahkan menyalahi aturan sebenarnya dan hal ini tidak bisa di salahkan begitu saja tanpa alasan yang jelas dan tanpa memperhitungkan berbagai aspek yang ada di dalamnya.
Di dalam seni sebenarnya tak ada aturan atau hukum yang jelas di dalamnya yang menekankan bahwa seni untuk berkesnian atau melakonkan sebuah wayang harus patuh atau tunduk pada hukum-hukum yang ada pada pewayangan dan sebagai manusia dalam mengekspresikan sesuatupun tentunya tak akan semudah itu untuk tunduk begitu saja seperti wayang-wayang yang di mainkan oleh sang dalang ketika berbagai masalah menyudutkan dan mengubah pola fikir untuk bertindak lain dari yang lain.
Selama perkembangan yang di alami wayang purwa dan kesenian daerah-daerah lain di negri ini masih menunjukan citra yang tidak menyimpang dari khasanah seni di tanah jawa dan tidak meninggalkan budaya ketimuran itu sendiri,maka biarkanlah orang-orang seni berkreasi sesuai dengan panggilan nurani dan menyesuaikan diri dengan keadaan jaman,sebab di tangan merekalah kesenian di negri ini mampu bertahan dengan berbagai kreasi dan perubahanya.



November 25th, 2009 on 11:51 pm
Yang penting terus berkarya…
@=> Yups..,dengan berkarya kita bisa menyalurkan apa yg ada dalam diri dan pemikiran kita..
November 26th, 2009 on 4:22 am
Kok ra ono gambare … Mas
Apapun bentuk kreasi wayang tetap enak untuk di nikmati …
@=> Woalah..mas..mas..ojo di paido toh..,gak nduwe poto je..
November 26th, 2009 on 6:41 am
keren jg ya wayang techno. tp tetap ada sense yg engga bisa digantikan ya..
@=> Kalo di ganti semua brarti ndak nguri-uri kabudayan jawi lagi dunk..hehehe..
November 26th, 2009 on 10:41 am
benar sekali, yang penting terus berkarya. Setiap karya pada akhirnya akan menuai prestasi, apapun yang terjadi diawal kerja kita, jangan menyerah
@=> Yups..makasih..,tetap melangkah pantang menyerah..
November 26th, 2009 on 11:48 am
Mari bertakbir seraya memuji nama-Nya.
Allahu Akbar 3x
Laa Ilaa Ha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Walillah Ilham. KUMANDANGKAN TAKBIR KEMENANGAN!!!!!
@=> Mari kita lakukan bersama-sama mas.. *Semangat..*
November 27th, 2009 on 6:22 am
wayang juga mengalami perubahan ternyata, memang wayang yang asli sekarang jarang penggemarnya, habis monoton gitu
@=> “Wayang yang asli” sebenarnya masih menjadi fenomena,sebab jauh sebelum orang mengenal karya sastra Resi Walmiki dan Wiyasa dengan novel Ramayana dan Mahabarata di tanah jawa telah di ketemukan kitab arjuna wiwaha karaya empu kanwa pada masa pemerintahan prabu airlanga.
Kemudian adanya para wali yang memanfaatkan wayang sebagai media dakwah wayang mulai di kenal banyak orang dan semenjak kasultanan Demak runtuh dari waktu ke waktu wayang mulai mengalami berbagai perubahan hingga sekarang yang masih banyak di gunakan mengacu pada pakem karya Sunan Pakubuwono dari kasunanan surakarta,jadi wayang tetap terus mengalami perubahan menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.
Salam..
November 27th, 2009 on 8:08 am
betul sing penting terus berkarya dan melakukan sesuatu, walaupun sesuatu itu harus melewati fase beda pendapat
yang penting maju bersama membangunkota Ngawi..YUkkk
@=> Itu yang kita harapkan Om..
makaseh..atas tambahan semangatnya..
November 27th, 2009 on 10:18 pm
tetap berkarya yang penting menuju ke arah yang lebih baik, lebih bermanfaat bagi sesama
@=> Siap menuju lebih baik dan bermanfaat bagi sesama..
November 27th, 2009 on 10:52 pm
jadi inget wayang yg ada didaerahku….dilakonkan sebagai amat locong.. hehe cukup menghibur n menarik
@=> Kita semua memang perlu hiburan namun yang perlu kita cari jalan keluar bagaimana agar wayang tetap bertahan..
December 1st, 2009 on 11:26 pm
holllaaa.. udah lama ga main ke tempat dikau. ini domain baru ya? and thanks God ga pake basa jawa :D.
hm.. wayang… jadi inget my daddy, suka banget ama wayang golek
@=> allo jua mbak.. :smirk:
Ah..,doamin ene dah lama kq..cuma jarang di update aja..
December 2nd, 2009 on 3:54 am
okay but philosophically from puppet itself can not be left kuwalat
@=> :shake:
December 2nd, 2009 on 8:15 am
Waktu yang akan membuktikan apakah para pencinta wayang purwo bisa beralih ke wayang techno ini.
@=> memang..,biarkanlah waktu yang menjawab,namun yang kita harapkan semoga wayang purwa tetap ada pada tempatnya sendiri.
December 2nd, 2009 on 8:31 pm
jadi inget animasi gamelan ciptaan Pak Joko Triyono (Kebumen) … gamelan digital … asik nabuh gong hanya pencet keyboard komputer … jadi inget lagi alih bahasa tembang ‘luking gadhung –> duduk bimbang. jadi inget lagi gendhing kutut manggung (Nyahni) versi campur sari … dan banyak lagi wayang mbelink …. yang bertubi-tubi bikin terkekeh-kekeh.
AKAN TETAPI SETIAP WAYANG TECKNO ATAU APA ITU BUDAYA MODIFIKASI masih tetap terasa ada yang hilang … apa ini hanya PERASAANKU PRIBADI ? maybe … maybe … maybe.
————————————————–
Mbuh ya … bingung aku
opo mergo aku wiyogo
kupingku gak isa diapusi nuw
Nek jejer Ngastino gak nganggo gendhing Kabor
kayane rasane yo isih kabur kieh ….
————————————————–
Opo maneh nek krungu jejere mbah Timbul … kok gak nganggo gendhing Karawitan … halah … kuping … kuping ku …. kupingku raisoh nguping kieh
@=> Bagaimanapun jua wayang purwa tetap ada kan Pak.. :thumbup: